Kemendikbud Masih akan Gunakan Sistem HOTS di UNBK Tahun 2019

Kamis, 11 Oktober 2018 | 08:00 am


Zunita Amalia Putri - detikNewsKemendikbud Masih akan Gunakan Sistem HOTS di UNBK Tahun 2019

Foto: Rinto Heksantoro/detikcom

Jakarta - Kemendikbud memakai sistem higher order thinking skills (HOTS) dalam menyelenggarakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) untuk tingkat SMP. Sistem ini terus dipakai untuk UNBK pada 2019.

"Kalau HOTS akan terus kita gunakan, itu wajib belajar itu guru-gurunya juga kita lakukan pelatihan-pelatihan juga untuk pembelajaran HOTS, sekarang pelatihan kurikulum yang di lapangan itu sudah ada modul pembelajaran dan penilaian HOTS. Jadi itu jangan ditakutkan toh itu penalaran kan, sekarang orang kalau dengar HOTS itu kan penalaran belum berarti sulit namanya penalaran biar anak kita kreatif dan kritis," kata Dirjen Dikdasmen Kemendikbud, Hamid Muhammad, di Perpustakaan Kemendikbud, Jl Sudirman, Jakarta Selatan, Senin (28/5/2018).
 

Baca juga: Kemendikbud: Nilai Rata-rata UN SMP 2018 Alami Penurunan

Hamid menilai turunnya nilai rata-rata SMP untuk UNBK tahun ini disebabkan sistem ujian yang dulunya Ujian Nasional Berbasis Kertas dan Pensil (UNKP) dan saat ini menjadi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), bukan dari sistem soal HOTS yang saat ini digunakan dalam UNBK.

"Loh menurun menurut daya efek UKP ke UNBK, bukan karena HOTS ya mungkin ada penurunan tingkat penalaran. Tapi menurut saya lebih banyak dari UNKP dulu tahun lalu kan 70 persen UNKP sekarang kebalik 63 persen UNBK sehingga begitu pakai UNBK drop 28 poin, saya lebih percaya itu bukan dikarenakan nilai HOTS," jelas dia.

Hal senada dikatakan Kepala Balitbang Kemendikbud, Totok Suprayitno. Ia mengatakan sistem HOTS akan terus digunakan karena ini bertujuan mengembangkan daya nalar anak-anak.

"(Tetap) pakai, karena HOTS ini untuk membiasakan anak bernalar. HOTS itu adalah higher order thinking skills, bernalar kan itu mengembangkan daya nalar dan kalau anak sekarang belajar tidak menguasai HOTS dan sekolah nggak mengembangkan daya nalar itu salah," ucap dia.


Menurut Totok, pendidikan di sekolah seharusnya mengutamakan cara nalar berpikir anak-anak agar anak dapat menginterpretasikan kalimat, makna, dan memahami informasi. Ia menilai sistem HOTS ini sebagai salah satu cara agar anak dapat belajar memahami suatu informasi di kehidupan sehari-hari.

"Sejak awal namanya pendidikan harus mengembangkan daya nalar dan anak-anak kita tidak bisa dididik seperti grilling gitu di tryout kasih rumus dan menerapkan saja bisa, tapi ketika harus menginterpretasikan kalimat panjang, paragraf panjang nggak paham, memahami kalimat sulit, memaknai kalimat sulit, menggunakan informasi sulit, loh apa hidup ke depan seperti itu? Hidup kan nggak menggunakan rumus tiap hari, tapi menggunakan informasi, mencernanya, menggunakannya untuk memecahkan persoalan bermodalkan konsep-konsep ilmu yang dimiliki HOTS," imbuh Totok.

Ketika ditanya apakah penurunan hasil nilai UNBK lantaran terpengaruh oleh sistem baru ini, Totok menjawab penurunan ini disebabkan belum terlatihnya para siswa dalam mengaplikasikan sistem yang baru seperti ini. Para murid juga diminta tidak sekadar menghafal suatu materi, tetapi juga memahaminya dengan saksama.

"Menurun mungkin karena belum terlatih. Maka harus dilatih sekolah itu bernalar jangan menghafal saja, tapi harus daya nalar juga," tutur dia. 
(aan/aan)